Peran TNI AU dalam Pemberantasan G 30 S/PKI

TNI Angkatan Udara adalah salah satu bagian Integral dari Tentara Nasional Indonesia yang memiliki tugas pokok sebagai penegak kedaulatan negara di wilayah udara Nasional, mempertahankan keutuhan wilayah Dirgantara Nasional dan penegak hukum di udara serta mengembangkan potensi Nasional menjadi kekuatan pertahanan keamanan di udara, adapun TNI Angkatan Udara memiliki fungsi sebagai alat pertahanan keamanan negara di wilayah udara Nasional. Dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya, telah dijabarkan kepada jajaran yang berada dibawah komando TNI Angkatan Udara.

Sejarah lahirnya TNI AU bermula dari pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR) pada Tanggal 23 Agustus 1945, guna memperkuat Armada Udara yang saat itu sangat kekurangan pesawat terbang dan fasilitas-fasilitas lainnya. Sejalan dengan perkembangannya berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR), pada tanggal 5 Oktober 1945 dengan nama TKR jawatan penerbangan di bawah Komodor Udara Soerjadi Soerjadarma.

Pada tanggal 23 Januari 1946 TKR ditingkatkan lagi menjadi TRI, sebagai kelanjutan dari perkembangan tunas Angkatan Udara, maka pada tanggal 9 April 1946, TRI jawatan penerbangan dihapuskan dan diganti dengan Angkatan Udara Republik Indonesia, kini diperingati sebagai hari lahirnya TNI AU yang diresmikan bersamaan dengan berdirinya Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Adapun peran TNI AU dalam pemberantasan G 30 S/PKI, yaitu melaksanakan operasi-operasi sebagai berikut.

1) Operasi Trisula

Untuk kesekian kalinya G 30 S/PKI melakukan konsolidasi dengan membentuk pemerintahan bayangan di daerah Blitar Selatan. Di daerah ini mereka melaksanakan gerakan gerilya dengan melakukan teror baik di bidang politik, ekonomi, maupun keamanan. Betapapun rapihnya rencana mereka, akhirnya terbongkar juga berkat kekompakan ABRI dan rakyat. Operasi Trisula ini merupakan operasi gabungan. Dalam hal ini AURI diwakili oleh Komando Wilayah Udara IV dan langsung di bawah bimbingan Panglima Kowilu IV Komodor Udara Suwoto Sukendar. Berdasar Surat Perintah Operasi Panglima Kowilu IV No. 84/PO/1968 tertanggal 6 Juni 1968. Untuk menunjang operasi ini dibentuk suatu task force operasi ELANG dengan tugas utama memberikan bantuan baik di darat maupun dari udara.

Bantuan operasi udara berupa bantuan taktis, yakni bombing, straffing dan rocketting dari udara, dengan maksud ruang gerak gerombolan sisa-sisa G 30 S/PKI dapat dilokalisasi dan dipersempit. Di antara bantuan tersebut antara lain dilakukan oleh beberpa pesawat udara taktis yaitu 2 buah pesawat pemburu P-51 “Mustang”, sebuah Pembom B-26 “Invader” dan sebuah pesawat AT-16 “Harvard”. Pada tanggal 10 Juli 1968 dilakukan air straffing dengan senjata 12,7 terhadap kubu-kubu lawan.

Selain pesawat-pesawat taktis, oleh AURI juga dikerahkan pesawat-pesawat C-130 B Hercules dan Helikopter Mi-4 dengan tugas utama mengadakan pengangkutan udara untuk keperluan pengangkutan pasukan, logistik, survey, recce, VIP flight dan lain-lain. Akhirnya dalam waktu singkat, berkat kerjasama yang baik antara ABRI dan rakyat, daerah Blitar Selatan dapat diamankan.

2) Operasi Kalong

Suatu hasil gemilang selama dilakukan operasi penangkapan dan pengejaran terhadap tokoh-tokoh G-30-S/PKI tercatat pada tanggal 12 Januari 1967, yaitu dengan berhasil dibekuknya gembong G-30-S/PKI ex Brigjen Supardjo dan Anwar Sanusi dalam suatu operasi Gabungan Intel Pepelrada, Intel Kowilu V dan Polisi Angkatan Udara. Operasi yang dilakukan Satgas Intel ini kemudian terkenal dengan nama Operasi Kalong. Supardjo dan Anwar Sanusi setelah lolos dari pengejaran ABRI di daerah Cilincing Tanjung Priok bersembunyi di suatu tempat di Kompleks Lanuma Halim Perdanakusuma. Atas perintah dan Lanuma Halim dilakukan operasi pembersihan dengan mengerahkan satu peleton Kopasgat dan satu peleton Polisi AU, masing-masing dibekali satu buah foto Supardjo. Operasi hampir mengalami kegagalan, tetapi setelah Satgas Intel dari Kowilu V dan Kodim 050/Jaya bergabung, akhirnya tepat saat fajar menyingsing tanggal 12 Januari 1967 disaat Umat Islam sedang sibuk-sibuknya menyongsong Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1386 H, Supardjo dan Anwar Sanusi dapat ditangkap.

Dalam hubungan ini Men/Pangau pada suatu upacara militer telah mengemukakan antara lain: “Bahwa dengan turut aktifnya anggota-anggota AURI dalam tugas operasi KALONG, maka AURI sebagai salah satu unsur dari ABRI telah manunjukkan itikad baiknya, yang secara positif mengambil bagian dalam semua operasi-operasi pengamanan dan penertiban, yang sekaligus mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada AURI sebagai alat Negara”.

0 komentar:

Poskan Komentar