Pengertian Pesawat C-130 Hercules

C-130 Hercules adalah sebuah pesawat terbang bermesin empat turboprop yang bertugas sebagai pengangkat udara taktikal utama untuk pasukan militer di banyak bagian dunia. Mampu mendarat dan lepas landas dari runway yang pendek atau tidak disiapkan, awalnya dia adalah sebuah pengangkut tentara dan pesawat kargo yang sekarang ini juga digunakan untuk berbagai macam peran, termasuk infantri airborne, pengamatan cuaca, pengisian bahan bakar di udara, pemadam kebakaran udara, dan ambulans udara. Sekarang ini ada lebih dari 40 model Hercules, termasuk beberapa kapal senapan, dan juga digunakan di lebih dari 50 negara. Melayani lebih dari 50 tahun, keluarga C-130 telah menciptakan rekor yang bagus untuk kehandalan dan daya tahannya, berpartisipasi dalam militer, sipil, dan bantuan kemanusiaan.

Indonesia menerima 10 pesawat C-130 dari pemerintah Amerika Serikat sebagai penukar tawanan pilot CIA Allen Pope yang terlibat membantu pemberontakan Permesta di Sulawesi pada tahun 1958.

Pada tahun 1975, Indonesia menerima 3 C-130B. Di tahun 1980-an, di bawah program untuk meningkatkan kemampuan angkatan udara Indonesia, 3 buah C-130H, 7 C-130HS (long body), 1 C-130 MP (patroli maritim), 1 L-100-30 (untuk keperluan sipil), dan enam L-100-30s yang dioperasikan oleh PT Merpati dan Pelita Air untuk keperluan transmigrasi.

Pada tahun 1999 Senat Amerika Serikat mengeluarkan larangan penjualan senjata dan pembekuan hubungan militer dengan Indonesia, yang berkaitan dengan krisis Timor-Timur. Ini menyebabkan 17 pesawat C-130 tidak layak terbang karena tidak adanya suku cadang. Pada tanggal 20 September 2000, setelah Presiden Abdurrahman Wahid dan Menteri Pertahanan Mahfud berbicara dengan Menteri Pertahanan Amerika Serikat William Cohen pada pertemuan awal September, pemerintah Amerika Serikat menyatakan akan mengijinkan eksport suku cadang ke Indonesia. Tetapi sampai bertahun-tahun import suku cadang dari Amerika Serikat tidak pernah dijalankan dan TNI kemudian mengimport suku cadang dari negara lain.

Senat Amerika Serikat tetap menyatakan pelarangan penjualan senjata ke Indonesia, tetapi memberi presiden Amerika Serikat hak perkecualian.

Versi sipil dari C-130 Hercules adalah Lockheed L-100 Hercules. Merpati Nusantara Airlines tercatat pernah mengoperasikan pesawat jenis L-100-30, perbedaan utama dengan versi militer adalah mesin yang lebih lemah, jendela yang lebih banyak, dan dihilangkannya pintu besar di belakang badan pesawat. Dikemudian hari L-100 Merpati dihibahkan kepada TNI-AU untuk melengkapi armada Hercules di skadron udara 17 dan 31 yang berkedudukan di Halim, Jakarta. Selain Indonesia, beberapa negara juga menggunakan versi sipil dari Hercules ini, bahkan beberapa negara seperti Aljazair, Kuwait dan Gabon, menggunakan L-100 untuk kepentingan militer mereka. Total hanya 114 L-100 yang terjual, produksi terakhir terjadi pada tahun 1992. kemudian hari L-100 dikembangkan menjadi L-100J yang ekuivalen dengan C-130J lengkap dengan mesin turboprop canggih Rolls-Royce (Allison) AE-2100D3, baling-baling enam bilah, dan EFIS dua kru, tapi program ini dibatalkan pada tahun 2000 karena Lockheed ingin fokus di versi militer saja.

Keluarga C-130 memiliki sejarah produksi yang paling panjang dari seluruh pesawat militer. Yang pertama prototipe YC-130 terbang pada 23 Agustus 1954 dari pabrik Lockheed di Burbank, California, Amerika Serikat. Pesawater tersebut dipiloti oleh Stanley Beltz dan Roy Wimmer. Setelah kedua prototipe selesai, produksi dipindahkan ke Marietta, Georgia, di mana lebih dari 2.000 C-130 dibuat.

Wajah Pesawat Hercules C-130 buatan pabrik pesawat Amerika Lockheed itu bulat dan gemuk, sehingga paras wajahnya tidak secantik pesawat lain, karena itu tidak banyak orang yang menyayangi tampilannya.

Hercules C-130 sendiri merupakan prototipe pesawat dengan sayap ibarat belahan bambu atau kayu yang tipis dan panjang serta dipasang seimbang di atas badannya yang gemuk. Ia juga menggunakan empat mesin Turboprop Allison buatan General Motors.

Badan belakangnya seperti dipangkas tajam dengan bentuk ujung yang runcing dan bagian atas dipasangi sayap vertikal yang besar, apalagi warna coklat susu seakan melengkapi tampilan yang tidak menggairahkan sama sekali.

Tampilan seperti itu pun membuat orang akan sulit mempercayai bahwa pesawat itu dibuat oleh pabrik Lockheed di Burbank, California Selatan, Amerika yang terbang untuk pertama kalinya pada 23 Agustus 1954.

Namun, banyak kalangan, termasuk TNI AU, masih terus mengoperasikan pesawat jenis itu, karena kebutuhan terhadap pesawat angkut yang serba bisa, termasuk Hercules C-130 yang mengukir sejarah dalam penyaluran bantuan kemanusiaan.

Berikut sejumlah data dan fakta yang berhasil dikumpulkan;
  • Daya angkut: 20.000 kg termasuk 2-3 kendaraan tempur Humvees atau sebuah kendaraan angkut personel lapis baja M113. Kapasitas muatan: 33.000 kg, berat maksimum saat lepas landas: 70.300 kg.
  • Kapasitas penumpang : 92 orang (sipil), atau 64 prajurit lintas udara (militer) atau , 74 pasien dengan 2 tenaga medis.
  • Spesifikasi : Panjang: 29,8 m, tinggi: 11,6 m, rentang sayap : 40,4 m, luas sayap: 162,1 m² . Berat kosong: 38.000 kg.
  • Daya jelajah: 3.800 km, kecepatan 540 km/jam, kecepatan maksimum: 610 km/jam. Ketinggian terbang: 10.000 km. Dalam posisi penuh, tangki bahan bakar mampu memuat 953 ribu gallon.
  • Sumber tenaga: 4 buah mesin turboprop Allison T56-A-15, masing-masing 4.300 bhp (3,210 kW).
  • Ada lebih dari 40 model Hercules, yang pabriknya ada di Burbank, California, Amerika Serikat. Digunakan di lebih dari 50 negara. Melayani lebih dari 50 tahun.
  • C-130 Hercules juga menjadi satu-satunya pesawat militer yang masih diproduksi dan dikembangkan dengan varian terbaru C-130J Super Hercules.
  • Keluarga Hercules C-130 telah menciptakan rekor yang bagus untuk kehandalan dan daya tahannya, berpartisipasi dalam militer, sipil, dan bantuan kemanusiaan.
  • Hercules prototipe YC-130 terbang pada 23 Agustus 1954. Setelah prototype selesai, produksi dipindahkan ke Marietta, Georgia, Amerika Serikat, di mana lebih dari 2.000 C-130 dibuat.
  • Versi sipil dari C-130 Hercules adalah Lockheed L-100 Hercules. Di Indonesia perusahaan maskapai Merpati Nusantara Airlines pernah mengoperasikan jenis L-100-30.
  • Perbedaan utama dengan versi militer adalah mesin yang lebih lemah, jendela yang lebih banyak, dan dihilangkannya pintu besar di belakang badan pesawat.
  • Dikemudian hari L-100 Merpati dihibahkan kepada TNI-AU untuk melengkapi armada Hercules di skadron udara 17 dan 31 yang berkedudukan di Halim, Jakarta.
  • Selain Indonesia, beberapa negara juga menggunakan versi sipil dari Hercules ini, bahkan beberapa negara seperti Aljazair, Kuwait dan Gabon, menggunakan L-100 untuk kepentingan militer mereka.
Di kemudian hari, L-100 Merpati dihibahkan kepada TNI AU untuk melengkapi armada Hercules di skadron udara 17 dan 31 yang berkedudukan di Halim, Jakarta.

0 komentar:

Poskan Komentar